Rabu, 06 Oktober 2010

Tokoh Bima dalam Pewayangan Jawa

Sastra itu bidang yang sangat luas jangkauannya. Berbagai pengetahuan tentang sesuatu, akan mempengaruhi kita dalam memahami suatu sastra. Oleh karena itu kawan, tidak ada salahnya apabila saat ini kita belajar tentang tokoh pewayangan. Mengapa wayang? karena wayang adalah budaya asli negara kita yang harus kita pahami dan ketahui betul-betul. Kalau bukan kita yang mencintai budaya negeri sendiri, siapa lagi??  

    Saya mendapat pengetahuan baru yang sangat menarik mengenai tokoh BIMA dalam pewayangan Jawa. Saya mendapatkan info ini dari twitter yang di update olah Mbah-Mbah Gondrong Nyentrik "Sudjiwo Tedjo" beberapa waktu yang lalu. Berikut ini adalah beberapa deskripsi mengenai BIMA yang beberapa diantaranya akan sedikit saya komentari.




  1. Bima tuh kepalanya Minangkara. Artinya, gobloknya dipamer2kan, pinternya disembunyikan, karena jika kamu be nothing, you will understand everything.
  2. Bima gak munafik, ceplas ceplos, tapi justru dia satu2nya yg diizinkan ketemu Tuhan langsung dalam lakon Dewa Ruci, bukan spiritualis Yudistira. 
  3. Dalam bahasa Jawa, ada tiga tingkat bahasa (1) ngoko (kasar); (2) kromo madya (3) krama inggil. Bima ngoko ke siapa pun, hanya kepada Tuhan ia memakai bahasa kromo inggil.
àmungkin yg dimaksud Bima di sini, kita, manusia tidak boleh melebih-lebihkan manusia mana pun, karena satu yang paling agung adalah Tuhan. Jadi, tidak ada satu manusia pun yang boleh dihormati lebih dari Tuhan.
  1. Menurut Kresna, orang-orang tak sakit hati meski Bima bicara ngoko karena Bima bicara dari niat dan hasrat yg tulus. 
  2. Karena itu, dalam lakon Pandawa Moksa, menjelang Pandawa wafat, semua justru berguru dan minta petunjuk Bima bagaimana cara ke Sorga. Termasuk Kresna.
  3. Kresna malah disuruh Bima bertapa lebih dulu di samudra pasir selama 40 tahun sebelum masuk Sorga karena dulu, Kresna sedikit banyak munafik
  4. Bagi Bima, pembersih diri sebelum sembahyang bukanlah air, tetapi perbuatan menolong sesama dan bacaannya ketika sembahyang adalah keheningan.
à Kalau yang ini ada dalam konsep kebanyakan ajaran kerohanian mengenai perbuatan baik untuk menolong sesama yang akan berpengaruh pada kebersihan pikiran dan jiwa yang akan membantu kita untuk lebih jago dalam hal sembahyang. Sembahyang dalam keheningan yang dimaksud Bima pada saat ini lebih terkenal dengan sebutan meditasi. Orang jaman dahulu biasa menyebutnya dengan bertapa. Bertapa atau meditasi memang merupakan jalan ”dalam” diri untuk menemukan sesuatu. Namun, sangat tujuan antara petapa satu dengan lain biasanya berberda-beda. Apabila kita bertapa atau meditasi hanya untuk mendapatkan ilmu atau ketengan semata bahkan untuk menghuni surga, kita tak akan pernah bertemu Sang Pencipta semua itu. Tapi kalau kita memang meditasi hanya untuk menemukan Tuhan, maka kita akan mendapatkan segalanya. Kenapa?? Karena Tuhan adalah Boss dari semua yang ada di dunia ini.

1 komentar: